Selasa, 20 Maret 2018

IDENTIFIKASI KAWASAN PESISIR TERUMBU KARANG PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU


IDENTIFIKASI KAWASAN PESISIR TERUMBU KARANG
PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU


            Terumbu karang ialah ekosistem yang memiliki sifat paling menonjol yaitu dalam bentuk produktivitas dan keanekaragaman jenis biotanya yang tinggi. Hewan-hewan karang menjadi komponen utama dalam terbentuknya terumbu karang di perairan tropis yang hangat dimana ekosistem ini menjadi penghuni dominan di perairan (Mapstone, 1990).  Kechingston dan Hudson (1984) memperkirakan bahwa 10% hasil perikanan yang ada di dunia diperoleh dari terumbu karang atau sekurang-kurangnya yang berhubungan dekat dengan terumbu karang. Sukarno dkk (1981) menjelaskan bahwa terumbu karang bukan hanya menjadi ekosistem yang produktivitasnya tinggi melainkan juga menjadi ciri khas dari daerah tropis yang terversifikasi taksonomik serta estetikanya bernilai tinggi. Selain menjadi bagian dari lingkungan hidup, ekosistem ini pun berfungsi sebagai tempat tinggal, wadah untuk berlindung dan tempat berkembangnya biodata terumbu karang. Menurut Suharsono (1996) negara Indonesia dapat dikatakan secara keseluruhan merupakan perairan yang memiliki kekayaan terumbu karang terbesar di dunia. Keanekaragamannya dapat menjadi sumber kehidupan bagi nelayan setempat. Sebagai sumber makanan dengan berbagai jenis ikan, moluska, krustasea, ekhinodermata dan rumput laut dapat dimanfaatkan untuk diri sendiri maupun diperjual-belikan dalam memenuhi kehidupan untuk masyarakat sekitar. Hal lain yang dapat digunakan dan bermanfaat dari ekosisitem ini yaitu sebagai sumber obat-obatan yang dapat menunjang industri farmasi, sebagai daerah rekreasi, industri pariwisata, penunjang kebudayaan, wadah perkembangbiakan, pemijahan dan pembuatan sarang biota laut. Selain itu juga terumbu karang memiliki mekanisme yang dapat mengontrol erosi pantai secara alami, sebagai penunjang transportasi laut misalnya pelabuhan, dan ekosistem ini dapat menjadi daerah penambangan karang, bahan pasir, petroleum dan logam dasar.



            Namun dari itu semua, fakta di lapangan menyatakan bahwa terumbu karang yang ada di Indonesia terus berkurang. Hal itu disebabkan adanya teknologi baru serta naiknya permintaan terhadap produksi laut yang menyebabkan terumbu karang menjadi obyek dari perusakan yang serius. Para ilmuwan melihat bahwa penyebab utama kerusakan tersebut adalah dari manusia, seperti tangkap hasil laut yang berlebihan, teknologi yang merusak (penggunaan bom ikan, pukat dan sebagainya), erosi, pembuangan sampah ke laut, polusi dari industri dan juga dari aktivitas pertambangan yang telah merusak terumbu karang secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini terjadi dikarenakan manusia tidak memiliki kesadaran dalam menjaga lingkungan dan keanekaragaman hayatinya. Padahal jika saja ekosistem ini dijaga dan dikelola dengan baik maka manfaat yang dihasilkan sangat menguntungkan bagi manusia itu sendiri. Contohnya seperti kerusakan terumbu karang yang ada di Pulau Panggang Kepulauan Seribu diakibatkan sampah. Dari kasus tersebut dikatakan bahwa pengaruh sampah sangatlah buruk terhadap ekosistem terumbu karang, karena dapat mematikan terumbu karang itu sendiri dan dapat mengakibatkan degradasi lingkungan. Dimana sebab utam ini terjadi karena ketidaktahuan masyarakat dalam mengelola dan menjaga kelestarian terumbu karang tersebut.

            Pulau Panggang adalah sebuah pulau yang berada di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta. Penduduk disana cukup padat, namun Pualu ini hanya memiliki akses yaitu jalan setepak dan dalam perkembangannya tidak mengalami kondisi yang terlihat jelas .Berdasarkan kondisi fisiknya, suhu dari perairan Pulau Panggan mengalami penurunan yang berkisar dari 300C hingga 290C. Namun pengaruh pemanasan global ini masih dapat ditolerir terhadap terumbu karang tersebut. Terhadap salinitas perairan Pulau Panggang berkisar antara 31% - 33% tetapi juga masih dapat ditoleransi terhadap terumbu karang. Selanjutnya terhadap kecerahan pada perairan Pulau Panggang stabil yaitu berkisar antara 3 meter hingga 9 meter dan dari hal tersebut mentolerin terhadap perkembangan dan pertumbuhan terumbu karang wilayah tersebut. Berdasarkan kondisi terumbu karang keadaan dari terumbu karang yang hidup maupun mati berkisar diantara 50%. Hal tersebut dapat menjadi penanda bahwa ekosistem tersebut seimbang antara yang dapat bertahan karena kondisi daerah tersebut kondusif maupun yang tidak kondusif yang mengakibatkan terumbu karang mati. Pada wilayah timur laut Pulau Panggang merupakan wilayah yang memiliki angka persentase terumbu karang mati paling banyak. Berdasarkan kondisi persampahannya, mayoritas ditemukan adalah sampah organik dan anorganik. Berdasarkan sampel yang didapatkan bahwa luas 1 m2 teramati 31,7% adalah sampah anorganik dan 68,3%-nya adalah anorganik. Secara kimiawi sampah organik dapat mencemari lingkungan dikarenakan setelah sampah terdekomposisi maka akan mengalami perubahan kimia sehingga mempengaruhi beberapa fauna laut. Sedangkan pada sampah anorganik juga dapat mencemari lingkungan khususnya terhadap beberapa biota laut yang membutuh sinar matahari agar dapat berfotosintesis, terhalang diakibatkan adanya keberadaan sampah anorganik itu. Dari penelitian yang dilakukan bahwa daerah timur laut Pulau Panggang adalah daerah yang memiliki total luasan sampah terluas.

            Berdasarkan kondisi sosial yang ada di Pulau Panggang bahwa jumlah penduduk terus meningkat yang menjadikan kebutuhan terhadap ruang untuk tempat tinggal semakin tinggi. Solusi yang saat ini dilakukan oleh masyarakat adalah dengan mereklamasi pantai sehingga yang awalnya tidak terbangun menjadi wilayah terbangun untuk kebutuhan tempat tinggal.permasalahan persampahan dan reklamasi pantai menjadikan masyarakat memiliki inisiatif yang menjadikan sampah sebagai pengisis pondasi dari reklamasi pantai tersebut. Solusi tersebut cukup membantu dalam mengurangi persampahan. Hanya saja dalam pengelolaannya, masyarakat masih kurang dikarenakan tidak adanya pemisahan antara sampah organik dan anorganik. Solusi reklamasi tadi mungkin memang tepat untuk sampah anorganik karena sulit terdegradasi, namun tidak untuk sampah organik. Ketidkcocokan tersebut dikarenakan sampah organik dapat terdegradasi dana akan tetap meresap ke dalam perairan laut melalui celah-celah pondasi reklame tersebut. Terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang terumbu karang yang menjadikan ekosisitem ini menjadi bahan pondasi. Berdasarkan hasil wawancara mendalam pada sebagian masyarakat dinyatakan bahwa memang bahan pondasi yang digunakan adalah batu laut atau yang dimaksud juga dengan terumbu karang yang berukuran besar. Beberapa masyarakat yang telah mengerti tentang terumbu karang juga mengakui bahwa terumu karang Pulau Panggang telah banyak dipakai sebagai bahan pondasi bangunan. Terumbu karang yang paling sering dipakai adalah terumbu karang massive yang memang menyerupai batu, namun juga terkadang yang berbentuk lain juga digunakan sebagai pondasi dengan syarat batu tersebut berukuran besar.

            Dari permasalah tersebut, seharusnya peran pemerintah dalam pengawasan harus ditingkatkan lagi. Bila perlu juga dibutuhkan tim khusus dalam menangani permasalahan tersebut seperti para ahli kelautan, dan para perencana wilayah pesisir. Dilakukannya  pelatihan dan pengetahuan kepada masyarakat dalam menjaga ekosistem terumbu karang juga sangat dibutuhkan agar para masyarakat disana dapat mengelola dan menjaga kelestarian ekosistem tersebut. Dan pastinya masyarakat disana juga diberi arahan tentang cara dalam pengelolaan persampah di Pulau Panggang agar tidak lagi mencemari kelestarian hayati di wilayah tersebut. Dan dari pemerintah sendiri adalah dengan membuat suatu kebijakan perlindungan lingkungan (konservasi) secara aktif untuk melestarikan kegiatan perikanan pantai yang sejalan dengan intensifikasi semua sistem perlindungan perairan.


DAFTAR PUSTAKA

Darmawan, Bani. Mardiatno, Djati. 2014. “Analisis Kerusakan Terumbu Karang Akibat      Sampah Di Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu” Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.


Penulis : Maulana Wahid (08161040)
Program Studi : Perencanaan Wilayah dan Kota
Institusi : Institut Teknologi Kalimantan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar